Halaman

    Social Items


Hari ini saya pergi salah satu kampung di daerah cianjur. Untuk sekiranya membantu sepupu saya melihat kolam ikan, ma'lum keluarga sepupu saya yang berprofesi sebagai pembudidaya ikan mas

Kolam yang kami pakai, hasil dari menggadai dari seorang kakek yang tinggal di dekat kolam tersebut. Kira-kiranya berumur 80 tahun kalau tidak salah. Karena pendengaran dan penglihatannya sudah mulai berkurang, mungkin karena faktor umur.

Setiap kali saya berkunjung dia selalu memberi wejangan pada saya dan sepupu, bahkan sangat baik sekali pada kami sering memberi kami makanan dan tempat istirahat saat lelah kerja. Walaupun dalam segi ilmu agama tidak seperti ustad/ kyai, tapi dalam pengalamannya bisa kita petik pelajaran. Mungkin bisa bermanfaat bagi saya dan juga sahabat semua.

Dan sudinya sahabat semua membaca cerita yang saya akan sampaikan di bawah ini, atas pengalaman kakek tadi;

Kakek bercerita waktu muda dulu, dia adalah seorang anak dari juragan tanah dan mewariskan seluruh harta dari ayahnya, karena dia anak tunggal dari sang juragan. Sewaktu muda kakek sering meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim untuk selalu taat kepada Allah SWT.

Dengan banyaknya kesibukan-kesibukan mengejar kesenangan duniawi membuatnya terus-menerus meninggalkan perintah dari Allah SWT. Sampai akhirnya teguran pun datang dari sang pencipta.  Mulailah badan yang gagah  dan sehat pun mulai terkena penyakit, bukan sekedar penyakit ringan, melainkan penyakit yang menghabiskan seluruh kekayaannya, baik berupa sawah, kolam ikan, kebun dan beberapa tanah galian. Habis di jual untuk berobat.

Bahkan saudara-saudara dari ayahnya pun tidak pernah menjenguk dia, padahal dulu pada saat dia masih gagah dan kaya mereka sering berkunjung untuk sekedar pesta-pesta hasil panen.

Dalam diri si kakek, timbulah sifat kehambaan yang membuat dia merasakan kekuasaan Allah SWT atas seluruh kehidupan manusia, baik , jelek, sehat, sakit, kaya dan miskin semua telah menjadi kekuasaan Allah SWT.

Begitu mudahnya Allah SWT, membuat sakit yang sehat, memiskinkan yang kaya. Karena bagaimana pun juga semua ini milik Allah SWT. Apa daya kita, harta, anak, istri dan bahkan diri kita pun hanya titipan dari Allah SWT untuk di pakai taat padanya.

Dengan begitu rasa salah dan dosa menyelimuti keseharian kakek itu, dengan rasa bersalah kakek pun tobat kepada Allah SWT. Dengan terus berusaha berobat dari sakit yang di derita.

Allah SWT adalah zat yang lautan pengampun, tidak ada dosa yang lebih besar dari pengampunan-Nya Allah. Maka tobat si kakek sepertinya di terima oleh Allah SWT, karena sakit yang menurut medis bisa mengantarkannya ke alam barzah pun, berangsur-angsur hilang dan sembuh.

Kakek pun sangat bersukur dengan itu, dan merubah kehidupannya. Yang dulu jauh dengan agama, kini kakek pun rajin akan solat fardu, sunah dan membaca al-qur'an.

Cerita pendek tadi di atas adalah kisah sepenggal pengalaman dari kakek. Dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya menjadikan pelajaran kepada kita, Untuk tidak selalu merasa akan hidup selamanya dengan terus mengejar duniawi. Melainkan kita harus jadikan kekayaan dan duniawi ini alat untuk takwa kepada Allah SWT. Seperti bersedekah dan menafkahkan harta di jalan yang di ridhokan oleh Allah SWT.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat semua. Bila merasa artikel ini memberikan manfaat silakan bagikan artikel ini di media sosial teman semua.

Jangan Terlalu Mengejar Dunia, Ingat Akherat


Hari ini saya pergi salah satu kampung di daerah cianjur. Untuk sekiranya membantu sepupu saya melihat kolam ikan, ma'lum keluarga sepupu saya yang berprofesi sebagai pembudidaya ikan mas

Kolam yang kami pakai, hasil dari menggadai dari seorang kakek yang tinggal di dekat kolam tersebut. Kira-kiranya berumur 80 tahun kalau tidak salah. Karena pendengaran dan penglihatannya sudah mulai berkurang, mungkin karena faktor umur.

Setiap kali saya berkunjung dia selalu memberi wejangan pada saya dan sepupu, bahkan sangat baik sekali pada kami sering memberi kami makanan dan tempat istirahat saat lelah kerja. Walaupun dalam segi ilmu agama tidak seperti ustad/ kyai, tapi dalam pengalamannya bisa kita petik pelajaran. Mungkin bisa bermanfaat bagi saya dan juga sahabat semua.

Dan sudinya sahabat semua membaca cerita yang saya akan sampaikan di bawah ini, atas pengalaman kakek tadi;

Kakek bercerita waktu muda dulu, dia adalah seorang anak dari juragan tanah dan mewariskan seluruh harta dari ayahnya, karena dia anak tunggal dari sang juragan. Sewaktu muda kakek sering meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim untuk selalu taat kepada Allah SWT.

Dengan banyaknya kesibukan-kesibukan mengejar kesenangan duniawi membuatnya terus-menerus meninggalkan perintah dari Allah SWT. Sampai akhirnya teguran pun datang dari sang pencipta.  Mulailah badan yang gagah  dan sehat pun mulai terkena penyakit, bukan sekedar penyakit ringan, melainkan penyakit yang menghabiskan seluruh kekayaannya, baik berupa sawah, kolam ikan, kebun dan beberapa tanah galian. Habis di jual untuk berobat.

Bahkan saudara-saudara dari ayahnya pun tidak pernah menjenguk dia, padahal dulu pada saat dia masih gagah dan kaya mereka sering berkunjung untuk sekedar pesta-pesta hasil panen.

Dalam diri si kakek, timbulah sifat kehambaan yang membuat dia merasakan kekuasaan Allah SWT atas seluruh kehidupan manusia, baik , jelek, sehat, sakit, kaya dan miskin semua telah menjadi kekuasaan Allah SWT.

Begitu mudahnya Allah SWT, membuat sakit yang sehat, memiskinkan yang kaya. Karena bagaimana pun juga semua ini milik Allah SWT. Apa daya kita, harta, anak, istri dan bahkan diri kita pun hanya titipan dari Allah SWT untuk di pakai taat padanya.

Dengan begitu rasa salah dan dosa menyelimuti keseharian kakek itu, dengan rasa bersalah kakek pun tobat kepada Allah SWT. Dengan terus berusaha berobat dari sakit yang di derita.

Allah SWT adalah zat yang lautan pengampun, tidak ada dosa yang lebih besar dari pengampunan-Nya Allah. Maka tobat si kakek sepertinya di terima oleh Allah SWT, karena sakit yang menurut medis bisa mengantarkannya ke alam barzah pun, berangsur-angsur hilang dan sembuh.

Kakek pun sangat bersukur dengan itu, dan merubah kehidupannya. Yang dulu jauh dengan agama, kini kakek pun rajin akan solat fardu, sunah dan membaca al-qur'an.

Cerita pendek tadi di atas adalah kisah sepenggal pengalaman dari kakek. Dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya menjadikan pelajaran kepada kita, Untuk tidak selalu merasa akan hidup selamanya dengan terus mengejar duniawi. Melainkan kita harus jadikan kekayaan dan duniawi ini alat untuk takwa kepada Allah SWT. Seperti bersedekah dan menafkahkan harta di jalan yang di ridhokan oleh Allah SWT.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat semua. Bila merasa artikel ini memberikan manfaat silakan bagikan artikel ini di media sosial teman semua.
   
Baca Juga
Load Comments