Social Items


Puasa kelahiran / wedal memang terjadi ikhtilaf ulama. Bahkan dari sebagian golongan tertentu melarang puasa tersebut. Karena tidak membenarkannya mereka kepada peringatan maulid nabi Saw. mereka takut hadits yang menerangkan rosul pernah puasa di hari kelahirannya, menjadi dalil bolehya melakukan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Tetapi puasa dihari kelahiran merupakan sesuatu yang bagus asalkan jangan dijadikan hari raya, sebagaimana mafhum keterangan dari ibnu rojab dalam kitab Fathul Barinya :

" Hari-hari yang di dalamnya terdapat hal-hal baru dari nikmat-nikmat Allah kepada hambanya jika sebagian orang berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur tanpa menjadikannya hari raya maka ini adalah sesuatu yang bagus, mengambil dalil dari puasanya Nabi Shollallohu alaihi wasallam pada hari asyura ketika orang yahudi mengkhabari beliau tentang puasanya Nabi Musa karena bersyukur, dan juga sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam ketika beliau ditanyai tetang puasa hari senin " itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari (wahyu) diturunkan padaku ". Wallohu a'lam.

وقال عطاء : إنما هي أعياد لأهل الموسم ، فلا ينهى أهل الأمصار عن صيامها . وقول الجمهور أصح . ولكن الأيام التي يحدث فيها حوادث من نعم الله على عباده لو صامها بعض الناس شكرا من غير اتخاذها عيدا كان حسنا استدلالا بصيام النبي صلى الله عليه وسلم عاشوراء لما أخبره اليهود بصيام موسى له شكرا ، وبقول النبي صلى الله عليه وسلم لما سئل عن صيام يوم الاثنين ، قال : " ذلك يوم ولدت فيه وأنزل علي فيه

Hukum Puasa Wedal / Kelahiran


الْمَوْصُوْلُ
MAUSHUL

BENTUK ISIM MAUSHUL MUFRAD (TUNGGAL) DAN MUTSANNA (DUAL)

مَوْصُولُ الاسْمَاءِ الَّذِي الأُنْثَى الَّتِي ¤ وَالْيَـــــا إذَا مَا ثُنِّيَــــا لاَ تُثْــــــبِتِ

Adapun Isim Mausul yaitu الَّذِي (jenis laki) dan untuk jenis perempuan yaitu الَّتِي. Jika keduanya di tatsniyahkan (dual), maka huruf Ya’nya jangan ditetapkan/dibuang…

بَلْ مَــا تَلِيْـهِ أَوْلِهِ الْعَلاَمَـــهْ ¤ وَالنُّوْنُ إنْ تُشْدَدْ فَلاَ مَلاَمَهْ

Akan tetapi, terhadap huruf yang tadinya diiringi oleh Ya’ yang dibuang tsb, sekarang iringilah! dengan (memasang) tanda Alamah I’rob (menjadi: الذان dan التان ketika mahal Rofa’. dan menjadi: الذَيْن dan التَين ketika mahal Nashab dan Jarr). adapun Nunnya jika ditasydidkan, maka tidak ada celaan untuk itu.

وَالْنّوْنُ مِنْ ذَيْنِ وَتَيْنِ شُدِّدَا ¤ أَيْضَاً وَتَعْوِيضٌ بِذَاكَ قُصِدَا

Demikian juga boleh ditasydidkan, yaitu Nunnya dari (isim isyarah dual) ذَيْنِ dan تَيْنِ. Pentasydidan tersebut, dimaksudkan sebagai Penggantian (dari huruf yg dibuang yaitu Ya’nya Isim Maushul dan Isim Isyarohketika dibentuk tatsniyah (dual))

BENTUK ISIM MAUSHUL JAMA’ (JAMAK)

جَمْعُ الَّذِي الألَى الَّذِيْنَ مُطْلَقَا ¤ وَبَعْضُهُمْ بِالْوَاوِ رَفْعَاً نَطَقَا

Jamaknya lafadz الَّذِي (Isim Maushul tunggal male) adalah الألَى atau الَّذِيْنَ secara muthlaq (baik untuk mahal Rofa’, Nashab dan Jarr). Ada sebagian dialek orang Arab berbicara dengan menggunakan Wau ketika mahal Rofa’ (menjadi: اَلَّذُوْنَ )

بِاللاَّتِ وَاللاَّءِ الَّتِي قَدْ جُمِعَا ¤ وَالَلاَّءِ كَالَّذِيْنَ نَزْرَاً وَقَعَا

Lafadz الَّتِي (Isim Maushul tunggal female) sungguh dijamakkan dengan menjadi اللاَّتِ atau اللاَّءِ . Ditemukan juga اللاَّءِ  dihukumi seperti الَّذِيْنَ (isim maushul jamak untuk male) tapi jarang.

BENTUK ISIM MAUSHUL MUTHLAQ (UMUM)

وَمَنْ وَمَا وَأَلْ تُسَاوِي مَا ذُكِرْ ¤ وَهكَذَا ذُو عِنْدَ طَيِّىء شُهِرْ

Adapun Isim Maushul مَنْ, مَا, dan أَلْ adalah menyamakan hukumnya dengan Isim Maushul yg telah disebut sebelunnya. (artinya: bisa digunakan untuk Male, Female, tunggal, dual, atau Jamak). Seperti itu juga hukumnya, yaitu Isim maushul berupa ذُو terkenal penggunaannya dikalangan dialek kaum Thayyi’.

BENTUK ISIM MAUSHUL QAUM THAYYI’

وَكَالَّتِي أيضـــا لَدَيْـهِمْ ذَاتُ ¤ وَمَوْضِعَ اللَّاتِي أَتَى ذَوَاتُ

Demikian juga ditemukan di kalangan kaum Thayyi’, penggunaan ذَاتُ seperti kedudukan الَّتِيْ (Isim mausul jenis female tunggal), juga penggunaan ذَوَاتُ menempati kedudukan اللآتِيْ (Isim mausul untuk  jenis female jamak).

BENTUK ISIM MAUSHUL THE (ذَا)

وَمِثْلُ مَا ذَا بَعْدَ مَا اسْتِفْهَـامِ ¤ أَوْمَنْ إذَا لَمْ تُلْغَ فِي الْكَلاَمِ

Isim Maushul ذَا statusnya sama dengan isim Maushul مَا (dipakai untuk tunggal, dual, jamak, male dan female), dengan ketentuan ذَا jatuh sesudah ما Istifham atau من Istifham, syaratnya ذَا tidak dibatalkan didalam Kalam (maksudnya: ذَا dan ما/من tsb, tidak dijadikan satu kata Istifham (kata tanya)).

BENTUK SHILAH ISIM MAUSHUL

وَكُلُّهَــا يَلْـزَمُ بَعَــدَهُ صِلَـهْ ¤ عَلَى ضَمِيْرٍ لاَئِقٍ مُشْتَمِلَهْ

Setiap Isim-Isim Maushul ditetapkan ada Shilah (jumlah/kalimat keterangan) setelahnya,  yang mencakupi atas Dhomir yang sesuai (ada Dhamir/’Aid yg  kembali kepada Isim Maushul).

وَجُمْلَةٌ أوْ شِبْهُهَا الَّذِي وُصِلْ ¤ بِهِ كَمَنْ عِنْدِي الَّذِي ابْنُهُ كُفِلْ
Shilah yang tersambung oleh Isim Maushul, biasanya terdiri dari Jumlah atau Shibhul Jumlah (serupa jumlah). seperti contoh: مَنْ عِنْدِي الَّذِي ابْنُهُ كُفِلْ

وَصــفَةٌ صَرِيْحَةٌ صِــلَةُ أَلْ ¤ وَكَوْنُهَا بِمُعْرَبِ الأَفْعَالِ قَلْ


Bentuk Sifat Sharihah (Isim Fai’l/Isim Maf’ul/Sifat Musyabbah) merupakan Shilah untuk Isim Mausul ال “AL”,  sedangkan Shilah-nya yang berupa Fi’il Mu’rob (Fi’il Mudhori’) jarang adanya.

ISIM MAUSHUL AYYUN (أَيٌّ) DAN BENTUK SHILAHNYA

أَيُّ كَمَا وَأُعْرِبَتْ مَا لَمْ تُضَفْ ¤ وَصَدْرُ وَصْلِهَا ضَمِيْرٌ انْحَذَفْ
Isim Mausul أيّ “Ayyun” dihukumi seperti Isim Maushul “Ma” (bisa untuk Mudzakkar, Muannats, Mufrod, Mutsanna juga Jama’) selagi tidak Mudhaf dan Shadar Silah-nya (‘A-id yg menjadi permulaan Shilah) adalah berupa Dhamir yang terbuang.

وَبَعْضُهُمْ أَعْرَبَ مُطْلَقَاً وَفِي ¤ ذَا الْحَذْفِ أَيًّا غَيْرُ أَيٍّ يَقْتَفِي

Sebagian Ulama Nahwu menghukumi Mu’rab Isim Mausul أيّ “Ayyun” secara Muthlaq (sekalipun أيّ Mudhaf dan Shodar Shilahnya dibuang). Sedangkan didalam hal pembuangan Shadar Shilah ini, Isim Maushul yg selain  أيّ juga mengikuti jejak أيّ … dengan syarat….→

PEMBUANGAN SHADAR SHILAH (‘A-ID MARFU’)

إِنْ يُسْتَطَلْ وَصْلٌ وَإِنْ لَمْ يُسْتَطَلْ ¤ فَالْحَذْفُ نَــــزْرٌ وَأَبَــوْا أَنْ يُخْتَزَلْ

…apabila Shilahnya dipanjangkan. Dan apabila tidak dipanjangkan, maka pembuangan Shadar Shilah jarang ditemukan. Juga Mereka (Ulama Nahwu) melarang terhadap pengurangan Shilah (dari sebab pembuangan Shadarnya)…→

إنْ صَلُحَ الْبَاقِي لِوَصْلٍ مُكْمِلِ ¤ وَالْحَذْفُ عِنْدَهُمْ كَثِيْـرٌ مُنْجَلِي

…apabila sisa Shilah itu (setelah pembuangan Shodarnya) masih cocok menjadi Shilah yang sempuna (berakibat menjadi Shilah dg lain pengertian dari asal sebelum dibuang). Adapun pembuangan ‘A-id Shilah oleh mereka (Ulama Nahwu/orang Arab), banyak digunakan dan jelas … →

PEMBUANGAN ‘A-ID MANSHUB

فِي عَــــائِدٍ مُتَّصِــلٍ إِنِ انْــتَصَبْ ¤ بِفِعْلٍ أوْ وَصْفٍ كَمَنْ نَرْجُو يَهَبْ

…didalam ‘A-id yang Muttashil (Aid Shilah Maushul yang berupa Dhomir Muttashi Manshub) bilamana dinashabkan oleh Fi’il atau Sifat. Seperti contoh مَنْ نَرْجُو يَهَبْ. (takdirannya: مَنْ نَرْجُوهُ يَهَبْ)

PEMBUANGAN ‘A-ID MAJRUR

كَذَاكَ حَذْفُ مَا بِوَصْفٍ خُفِضَا ¤ كَأَنْتَ قَاضٍ بَعْدَ أَمْـرٍ مِنْ قَضَى

Seperti itu juga (banyak digunakan dan jelas) yaitu pembuangan ‘Aid yang dikhofadkan/dijarkan oleh kata sifat. Seperti lafadz أَنْتَ قَاضٍ (takdirannya: أَنْتَ قَاضِيْه ) setelah Fi’il Amarnya lafadz قَضَى (dari Firman Allah QS 20:72. فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ )

كَذَا الَّذِي جُرَّ بِمَا الْمَوْصُوْلَ جَرْ ¤ كَمُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ فَهْــوَ بــَــرْ

Demikian juga (sering membuang Aid pada Shilah Maushul) yaitu Aid yang dijarkan oleh Huruf yg menjarkan Isim Maushulnya (dg Amil yg seragam). Sebagaimana contoh: مُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ فَهْــوَ بــَــرْ (takdirannya: مُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ بِهِ) □

Bab Maushul


اسْمُ الإِشَارَةِ
Isim Isyaroh (Kata Tunjuk)


Isim Isyarah Mufrad (tunggal) mudzakkar dan mu’annats

بِذَا لِمُفْــــــرَدٍ مُذَكَّــــــرٍ أَشِـــــــرْ ¤ بِذِي وَذِهْ تِي تَا عَلَى الأنْثَى اقْتَصِرْ

Menunjuklah kamu! dengan menggunakan ذَا untuk kata tunjuk mufrad mudzakkar. Dan ambil cukupkanlah! dengan menggunakan ذي – ذه – تي– dan تا untuk kata tunjuk mufrad mu’annats.

Isim Isyarah Mutsanna (dual) mudzakkar dan mu’annats

وَذَانِ تَــــانِ لِلْمُثَنَّى الْمُرْتَفِعْ ¤ وَفِي سِوَاهُ ذَيْنِ تَيْنِ اذْكُرْ تُطِعْ

Adapun ذَانِ (male) dan تَــــانِ (female) digunakan untuk kata tunjuk Mutsanna (dual) yang mahal rofa’. Dan yg selain mahal rofa’ (mahal nashab dan jar-nya), sebutkanlah! ذَيْنِ (male) dan تَيْنِ(female), maka kamu termasuk orang yg taat.

Isim Isyarah Jamak mudzakkar dan mu’annats

وَبِأُوْلَى أَشِرْ لَجِمْعٍ مُطْلَقَـــاً ¤ وَالْمَدُّ أَوْلَى وَلَدَى الْبُعْدِ انْطِقَا

Menunjuklah kamu! dengan menggunakan أُوْلَى untuk kata tunjuk jamak secara mutlak (untuk male atau female) adapun memanjangkannya adalah lebih utama (menjadi: أُوْلآءِ ). Dan ucapkanlah olehmu! untuk kata tunjuk jauh ……

Penggunaan Kata Tunjuk Jauh

بِالْكَافِ حَرْفَاً دُوْنَ لاَمٍ أَوْ مَعَهْ ¤ وَالَّلامُ إنْ قَدَّمْـــتَ هَـا مُمْتَنِـــعَهْ

… dengan menambah huruf Kaf dengan tanpa Lam atau menyertainya (menjadi داك atau ذالك). Penggunaan tambahan Lam itu dicegah apabila kamu mendahulukan dengan huruf Tanbih هَا (menjadi: هَذَاكَ, tidak boleh هَذَالِكَ ).

Isim Isyarah Makan (Kata tunjuk tempat) Dekat

وَبِهُنَـا أَوْ ههُنَـا أَشِـــرْ إلَى ¤ دَانِي الْمَكَانِ وَبِهِ الْكَافَ صِلاَ

Menunjuklah kamu! kepada tempat yang dekat dengan menggunakan هُنَـا atau ههُنَـا. Dan sambungkanlah! dengan Kaf pada Isim Isyarah tempat tsb, untuk ….

Isim Isyarah Makan (Kata tunjuk tempat) Jauh

فِي الْبُعْدِ أَوْ بِثَمَّ فُهْ أَوْ هَنَّا ¤ أَوْ بِهُنَــالِكَ انْــطِقَنْ أَوْ هِنَّــا

… tempat yang berada jauh, atau ucapkan! dengan memilih menggunakan ثَمَّ atau هَنَّا, ataupun ucapkanlah dengan menggunakan هُنَــالِكَ atau هِنَّــا.

Bab Isyarah

الْعَلَمُ
ISIM ALAM

DEFINISI ISIM ALAM

اسْمٌ يُعَيِّنُ الْمُسَمَّى مُطْلَقَا ¤ عَلَمُـــهُ كَجَعْـــفَرٍ وَخِـرْنِقَا

Nama yang secara mutlaq menunjukkan kepada sesuatu yang diberi nama, itulah “Isim Alam” seperti lafadz “Ja’far” (Nama Pria) dan “Khirniqa” (Nama Wanita)

وَقَــرَنٍ وَعَـدَنٍ وَلاَحِقٍ ¤ وَشَذْقَمٍ وَهَيْلَةٍ وَوَاشِقِ

juga seperti lafadz “Qaran” (Nama Kabilah), ” ‘Adan” (Nama Tempat), “Lahiq” (Nama Kuda), “Syadzqom” (Nama Unta), “Hailah” (Nama Kambing) dan “Wasyiq” (Nama Anjing).

ALAMI ISIM, ALAMI KUN-YAH, ALAMI LAQOB

وَاسْمَـاً أَتَى وَكُنْـيَةً وَلَـقَبَا ¤ وَأَخِّرَنْ ذَا إِنْ سِوَاهُ صَحِبَا

Isim Alam datang dengan sebutan  “Alami Isim” (Nama Asli). Juga “Alami Kun-yah” (Nama Kemargaan) dan “Alami Laqob” (Nama Julukan) akhirkanlah! untuk “Alami Laqob” ini, jika selainnya menyertainya.

وَإِنْ يَكُوْنَا مُفْرَدَيْنِ فَأَضِفْ ¤ حَتْمَـاً وَإِلاَّ أَتْبِعِ الذي رَدِفْ

jika keduanya  sama-sama Kalimah Mufrad (satu kata) maka Mudhofkanlah! dengan wajib. Tapi jika tidak, maka Tabi’kanlah! Kalimah yang terbelakang.

MANQUL, MURTAJAL, JUMLAH, TARKIB MAZJI

وَمِنْهُ مَنْقُولٌ كَفَضْلٍ وَأَسَدْ ¤ وَذُو ارْتِجَال كَسُعَــــادَ وَأُدَدْ

Juga diantara Isim ‘Alam, yaitu ada sebutan “Alami Manqul” (Nama dari pindahan perkataan lain) seperti contoh “Fadhol” (Nama pindahan, diambil dari isim Masdar artinya: utama) dan “Asad” ( Nama pindahan, diambil dari jenis hewan artinya: Harimau). Dan juga sebutan “Alami Murtajal” (Nama yg sebelumnya tidak pernah dipakai untuk yg lain kecuali khusus untuk sebuah Nama) contoh “Su’ad” dan “Udad”.

وَجُمْلَةٌ وَمَـا بِمَزْجٍ رُكِّبَا ¤ ذَا إنْ بِغَيْرِ وَيْهِ تَمَّ أُعْرِبَا

Diantara Isim Alam juga, yaitu susunan Jumlah dan  susunan Tarkib Mazji (campuran dua kalimah menjadi satu). Susunan Isim Alam yg demikian ini,  jika susunan akhirnya bukan kata “Waihi” maka dihukumi mu’rob.

وَشَاعَ فِي الأَعْلاَمِ ذُو الإِضَافَهْ ¤ كَعَــــــبْدِ شَمْــسٍ وَأَبِي قُحَـــافَهْ

Didalam Isim Alam juga banyak penggunaan susunan Idhofah, contoh “Abd Syamsi” dan “Abu Quhafah”

ALAMI JINSI

وَوَضَعُوَا لِبَعْضِ الأجْنَاسِ عَلَمْ ¤ كَعَلَم الأَشْخَـاصِ لَفْــظَاً وَهْوَ عَمْ

Dan mereka orang Arab,  juga menjadikan sebagian Isim Jenis sebagai Isim Alam (Alami Jenis), secara lafazh ia dihukumi seperti Alami Syakhsh (Nama Individu) secara makna ia tetap umum.

مِنْ ذَاكَ أمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ ¤ وَهكَـــذَا ثُعَـــــالَةٌ لِلْثَّعْــــلَبِ

Diantara Alami Jenis itu, yaitu seperti “Ummu ‘Iryath” alami jenis untuk Kalajengking, demikian juga “Tsu’alah” alami jenis untuk Musang.

وَمِثْلُـــهُ بَرَّةُ لِلْمَبَرَّهْ ¤ كَذَا فَجَارِ عَلَمٌ لِلْفَجرَهْ

seperti itu juga “Barroh” alami jenis untuk Tabi’at Baik, demikian juga “Fajari” alami jenis untuk Tabi’at Buruk.

Bab Isim Alam


Sholat dengan duduk di kursi bagi yang tidak mampu berdiri adalah boleh dan sah sholatnya. Tapi jika dia mampu bersujud dengan biasa (nungging di lantai) maka harus turun dari kursi dan duduk sebagaimana biasanya. Jika tidak mampu sujud dengan biasa maka boleh sujud memakai isyaroh (dalam keadaan tetap duduk di kursi).

Masalahnya adalah apakah orang yang mampu duduk di lantai boleh duduk di kursi ? sementara bagi orang yang tidak mampu berdiri tetapi mampu duduk di lantai sujudnya harus sempurna, nah kalau orang yang mampu duduk di lantai kemudian malah duduk di kursi, maka sujudnya tidak akan sempurna.

Dalam hal ini orang yang sholat duduk di kursi, kemungkinan keadaannya :

1. Duduk di kursi karena tidak mampu berdiri, juga tidak mampu duduk di lantai. Jadi dia sudah lumpuh. Naik ke kursipun dinaikkan. Biasanya kursi roda, maka ini tidak masalah kama huwa ma'lum.

2. Duduk di kursi untuk menggantikan berdiri, karena dia tidak mampu berdiri, tetapi duduk di lantai dan sujud dia mampu. Maka ini membahayakan, karena dia tetap wajib sujud dan duduk di antara dua sujud di lantai. Ketika dia turun untuk sujud posisi bisa menyundul depannya dan kursi bisa terjengkang membahayakan belakangnya. Dan merepotkan diri sendiri karena harus mengangkat badan duduk ke kursi dari sujud. Padahal sudah ada contoh dari Nabi ﷺ , jika tidak mampu berdiri duduknya di lantai bukan di kursi. Poin nomor 2 ini harus ada ibaroh shorih jika mau membolehkan duduk di kursi dengan menimbang perkara yang disebutkan di atas.

Walaupun ibarot sholat duduk di kursi tidak shoreh disebutkan dalam kitab salaf, namun bisa diambil kefahaman bahwasanya bagi orang yang tak mampu berdiri itu BOLEH duduk dalam keadaan duduk yang bagaimanapun sekehendak hatinya (termasuk duduk di atas kursi ), akan tetapi yang lebih utama duduk dengan iftirosy di lantai.

Menurut pengalaman salah satu mujawwib 4 bulan lalu kerabat nya tabrakan dan kakinya patah, sehingga posisi duduk di kursi itu lebih menunjang agar kaki tidak kaku menjolor ke depan saat urat-urat sudah normal. Artinya duduk di kursi bisa jadi untuk menstabilkan kaki agar tidak kaku. Itu salah satu alasan musholli sholat duduk di kursi. Umumnya orang yang shalat di kursi itu punya kemasyaqatan (kesulitan) saat naik turun kursi. Jadi kalau si musholli dapat duduk di lantai tanpa akan menjadi sebab apapun, maka shalat dengan duduk di kursi tidak diperlukan, karena pendapat yang mu'tamad jika si musholli tidak mmpu berdiri kecuali harus memakai jasa penolong selama ia berdiri saat sholat, maka dia tidak diharuskan berdiri.

وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّهُ مَتَى احْتَاجَ لِلْمُعِينِ فِي دَوَامِ قِيَامِهِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ وَيُصَلِّي مِنْ قُعُودٍ

[Mujawwib : Subhana Ahmada, Muh Jayus, Abdul Qodir Shodiqi, Zein Tsani Al Asfhany].

Referensi :
بداية المحتاج شرح المنهاج ١- ص ٢٣٢

(ولو عجز عن القيام .. قعد) بالإجماع (كيف شاء) لإطلاق حديث عمران بن الحصين (2)، ولا ينقص ثوابه، لأنه معذور.

(وافتراشه أفضلُ من تربُّعه) وتوركِه وغيرِهما (في الأظهر) لأنه قعود العبادة، فكان أولى من التربع الذي هو قعود العادة، وإنما فضل على التورك؛ لأنه قعود تَعْقُبه حركة، فأشبه التشهدَ الأول، والثاني: التربع أفضل؛ لئلّا يلتبس بالتشهد، وصححه جمع، وقال الماوردي: إن التربع للمرأة أفضل، لأنه أستر لها


النجم الوهاج في شرح المنهاج ٢- ص ١٠٠

قال: (كيف شاء) لا خلاف في ذلك، إنما الخلاف في الأفضل.

قال: (وافتراشه أفضل من تربعه في الأظهر) أي: في موضع قيامه؛ لأنها هيئة مشروعة في الصلاة، فكانت أولى من التربع؛ لأنه لا يليق بالخضوع، وهذا هو الصحيح، وخصه في (الحاوي) بالرجل وقال: الأولى للمرأة التربع؛ لأنه أستر.

والثاني: تربعه أفضل، وهو نصه في (البويطي)، واختاره الشيخ؛ لما رورى النسائي [3/ 224] عن عائشة رضي الله عنه قالت: (رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي متربعًا)، وكان أنس وابن عمر يفعلانه.


العزيز شرح الوجيز ١- ص ٤٨١

وإذا قعد المعذور فلا يتعين للقعود هيئة بل يجزئه جميع هيئات القعود لإطلاق الخبر الذي تقدم لكن يكره الإقعاء، هذا في القعود وفي جميع قعدات الصلاة،


حاشية الشرواني على التحفة ٢- ص ٢٤

قَوْلُ الْمَتْنِ (كَيْفَ شَاءَ) أَيْ عَلَى كَيْفِيَّةٍ شَاءَهَا مِنْ افْتِرَاشٍ أَوْ تَوَرُّكٍ أَوْ تَمْدِيدٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ شَيْخُنَا


الفكر الأساسي في بيان الصلاة على الكرسي

يجوز لعاجز عن القيام لمشقة شديدة لا تحتمل عادة كالزمن القعود سواء كان على الكرسي او غيره بل يجب عليه ، لكن أن أمكنه الركوع والسجود كاملا يجب عليه ان يهوي عن الكرسي لهما ،

والحاصل ان العاجز عن الأركان يجب عليه فعل ما أمكنه او بدله ، مثل من لا يقدر القيام يقعد على الارض او الكرسي او نحوهما وتصح صلاته ولا إعادة عليه .


المطلب الثالث

في حكم قعود المصلي قاعداً على الكرسي أثناء الصلاة

هناك من يعترض على الصلاة على الكرسي بل وربما قال ببطلانها() محتجاً بالآتي:

-أن المصلي على الكرسي صلاته بين القائم والجالس، والنبي قال: (صل قائماً، فإن لم تستطع فقاعداً) فلم يجعل ما بينهما موضعاً للرخصة.

-ولإنه لم يأتي مايدل على الجواز من قول أوفعل رسول الله  ، بل إنه  في صلاته في مرضه صلى على الأرض قاعداً ،و لم ينقل عنه صلاته على كرسي أو سرير أو دكة ومع وجودها في زمانه .

-أن المصلي على الكرسي عند التشهد لا يكون ملاصقاً للأرض، فحينئذٍ يكون مخالف لمقصود الشرع من أن يكون عند التشهد أو بين السجدتين قريباً من ا أرض.

-ولإنه يفوِّت صفة الصلاة الصحيحة ،فقد يومئ بالسجود من غير عذر مع القدرة علية

والصحيح أن جلوس المصلي قاعداً على الكرسي لذاته ليس مبطلاً للصلاة لإن الجلوس على الكرسي هي صورة من صور القعود (فإن لم تستطع فقاعدا)،فلم يقل له قاعداً على الأرض، ولم يحدد هيئة خاصة للجلوس، وإنما أمره بمطلق القعود، فهومطلق، يعم الكرسي وغير ،والعرب تسمي الجلوس على الكرسي قعودا، كما تسمي الجلوس على الأرض قعوداً ،و يدل على ذلك حديث أبي رفاعة قال:( أقبل عليّ رسول الله ،وترك خطبته حتى انتهى إلى فأتى بكرسى حسبت قوائمه حديدا ،فقعد عليه رسول الله ، وجعل يعلمنى مما علمه الله، ثم أتى خطبته فأتم آخرها.) ()

ولا يصح لأحد أن يقيد ما أطلقه رسول الله بغير دليل ويضيق على الناس أمرا لهم فيه سعة.

وقد كان عليه الصلاة والسلام يصلي على راحلته، وهي مرتفعة عن الأرض،في النافلة مع عدم العذر فجوازها مع العذر من باب أولى.

أما قولهم :أن المصلي قاعداً على الكرسي إذا أومأ بالسجود من غير عذر بطلت صلاته، فصحيح لكنه ليس حجة لمنع الصلاة على الكرسي لاسيما وهناك من لايستطيع الجلوس على الإرض لصعوبة ومشقة، مع أن صلاة المصلي قاعداً على الأرض هي الأفضل والأقرب إلى السنة وإلى الخشوع والله أعلم.


LINK ASAL :
web.fb.com/groups/piss-ktb/1872966259392840

Bagaimana Hukumnya Shalat Sambil Duduk Di Kursi


Menurut qoul ashshoh madzhab Syafi'iy batal sholat orang yang menelan air ludah yang masih ada sisa rasa permennya. Menurut qoul kedua tidak batal shalatnya.
Menurut Madzhab Hanbaliy malahan tidak masalah menelan sisa makanan di mulutnya tanpa dikunyah, atau sisa makanan yang terselip di sela gigi tanpa dikunyah, yang terlarut bersama ludah, dan sisa makanan itu sedikit. Karena semacam ini tidak disebut makan (Kasyaf al-Qana’ 1/398). Wallohu a'lam. [Abhie Sundavanjava, Moh Showi].

Referensi :

سلم المناجة

(الخامس أن يأكل) بمضغ أو غيره ولو ما لا يؤكل عادة كتراب (أو يشرب قليلاً) كمسة وذوب سكرة وريق مختلط بغيره (عمداً) أي قاصداً ولو بإكراه (فإن كان سهواً) أي ناسياً أنه في الصلاة (أو جهلاً) بتحريم ذلك (وعذر) بأن قرب عهده بالإسلام أو نشأ بعيداً عن العلماء ولم يمكنه الوصول إليهم (لم تبطل) أي صلاة كل منهما (بالقليل) عرفاً (وبطلت بالكثير) لأنه يقطع نظم الصلاة وإن لم يبطل الصوم بالنسيان والفرق أن لها هيئة مذكرة بخلافه، وأنها ذات أفعال منظومة، والفعل الكثير يقطع نظمها بخلاف الصوم، فإنه كف فلا يؤثر فيه الفعل الكثير


حاشيتا قليوبي و عميرة

(فلو كان بفمه سكرة) فذابت (فيلع) بكسر اللام . (ذوبها بطلت) صـلانه (في الاصح) لحصول المقصود من الأكل والثاني لا تبطل لعدم المضع.


مغني المحتاج

(فلو كان بفمه سكرة) فذابت (فبلع) بكسر اللام وحكي فتحها، (ذوبها) بمص ونحوه لا بمضغ، (بطلت) صلاته (في الأصح) لمنافاته للصلاة كما مر، والثاني: لا تبطل لعدم المضغ. ثم إن المضغ من الافعال فتبطل بكثيره وإن لم يصل إلى الجوف شئ من الممضوغ


اعانة الطالبين

مجرد الطعم الباقي من أثر الطعام لا أثر له لانتفاء وصول العين إلى جوفه، وليس مثل ذلك الأثر الباقي بعد شرب القهوة مما يغير لونه أو طعمه فيضر ابتلاعه، لأن تغير لونه يدل على أنه عينا،

أَمَّا مُجَرَّدُ الطَّعْمِ الْبَاقِي مِنْ أَثَرِ الطَّعَامِ فَلَا أَثَرَ لَهُ لِانْتِفَاءِ وُصُولِ الْعَيْنِ إلَى جَوْفِهِ وَلَيْسَ مِثْلُ ذَلِكَ الْأَثَرُ الْبَاقِي بَعْدَ الْقَهْوَةِ مِمَّا يُغَيِّرُ لَوْنَهُ أَوْ طَعْمَهُ فَيَضُرُّ ابْتِلَاعُهُ؛ لِأَنَّ تَغَيُّرَ لَوْنِهِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ بِهِ عَيْنًا وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ بِعَدَمِ الضَّرَرِ؛ لِأَنَّ مُجَرَّدَ اللَّوْنِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ اكْتَسَبَهُ الرِّيقُ مِنْ مُجَاوَرَتِهِ لِلْأَسْوَدِ مَثَلًا وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ أُخِذَ مِمَّا قَالُوهُ فِي طَهَارَةِ الْمَاءِ إذَا تَغَيَّرَ بِمُجَاوِرٍ .


حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب . الجزء 1. صفحة 435.

قوله: كالسهو) أي فتبطل بالكثير معه في الأصح وظاهره، وإن كان قريب العهد بالإسلام، وغير مخالط للعلماء.

)قوله: فلا تبطل بقليله قطعا) قياس ما في الصوم الذي تقدم قريبا نقله عند قوله أو نسي الصلاة إلخ بناء على ما فرقنا به ثانيا من أنه لو أكل هنا ناسيا ثم تذكر وظن أن صلاته بطلت بما فعله فبلع بقية المأكول عامدا البطلان، ومقتضى ما فرقنا به أولا عدمه، وهو الظاهر (قوله: وعجز عن تمييزه) أي أما مجرد الطعم الباقي من أثر الطعام فلا أثر له لانتفاء وصول العين إلى جوفه، وليس مثل ذلك الأثر الباقي بعد شرب القهوة مما يغير لونه أو طعمه فيضر ابتلاعه؛ لأن تغير لونه يدل على أن به عينا، ويحتمل أن يقال بعدم الضرر؛ لأن مجرد اللون يجوز أن يكون اكتسبه الريق من مجاورته للأسود مثلا. وهذا هو الأقرب أخذا مما قالوه في طهارة الماء إذا تغير بمجاور .


نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج . الجزء 2. صفحة 52.

- Syarwani juz 2 hal 155 :
ﺃ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﺠ‍‍ﺮ‍ﺩ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻄ‍‍ﻌ‍‍ﻢ‍ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﻗ‍‍ﻲ‍ ‍ﺑ‍‍ﻌ‍‍ﺪ ‍ﺷ‍‍ﺮ‍ﺏ‍ ‍ﻧ‍‍ﺤ‍‍ﻮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﻬ‍‍ﻮ‍ﺓ ‍ﻣ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻐ‍‍ﻴ‍‍ﺮ ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺭ‍ﻳ‍‍ﻘ‍‍ﻪ‍ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﻃ‍‍ﻌ‍‍ﻤ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻗ‍‍ﺮ‍ﺏ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻀ‍‍ﺮ; ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻥ‍ ‍ﻣ‍‍ﺠ‍‍ﺮ‍ﺩ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﻮ‍ﺯ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻳ‍‍ﻜ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻛ‍‍ﺘ‍‍ﺴ‍‍ﺒ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺮ‍ﻳ‍‍ﻖ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻣ‍‍ﺠ‍‍ﺎ‍ﻭ‍ﺭ‍ﺗ‍‍ﻪ‍ ‍

- Kasyaf al-Qana’, 1/398 :
ولا بأس ببلع ما بقي في فيه من بقايا الطعام من غير مضغ أو بقي بين أسنانه من بقايا الطعام بلا مضغ مما يجري به ريقه وهو اليسير، لأن ذلك لا يسمى أكلا

LINK ASAL :
web.fb.com/groups/piss-ktb/2238427849513344

Bagaimana Hukumnya Shalat Menelan Bekas Memakan Permen



الْنَّكِرَةُ وَالْمَعْرِفَةُ

Bab Nakiroh dan Makrifat

PENGERTIAN NAKIROH DAN MA’RIFAT

نَكِرَةٌ قَـــــابِلُ أَلْ مُؤثِّــــرَاً ¤أَوْ وَاقِعٌ مَوْقِعَ مَا قَدْ ذُكِرَا

Nakirah adalah Isim yang dapat menerima AL pemberi bekas ma’rifat, atau Isim yang menempati tempatnya Isim tersebut (dapat menerima AL Ma’rifat).

وَغَيْــرُهُ مَعْرِفَـةٌ كَــهُمْ وَذِي ¤وَهِنْـدَ وَابْنـيِ وَالْغُلاَمِ وَالَّذِي

Selain tersebut (pengertian Isim Nakirah) dinamaka Ma’rifat, yaitu seperti هم (Isim Dhomir), ذي (Isim Isyaroh), هند (Isim Alam), ابني (Isim Mudhof), الغلام (Isim yg ada AL ma’rifatnya) dan الذي (Isim Maushul).

ISIM DHOMIR / KATA GANTI (BAGIAN ISIM MA’RIFAT YG PERTAMA)

فَمَا لِذِي غَيْبَةٍ أوْ حُضُورِ ¤ كَأَنْـتَ وَهْـوَ سَمِّ بِالضَّمِيْرِ

Setiap Isim yang menunjukkan arti ghaib dan hadir seperti contoh: انت dan هم , maka namakanlah! Isim Dhomir.

ISIM DHAMIR MUTTASHIL

وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَا لاَ يُبْتَدَا ¤ وَلاَ يَلِي إلاَّ اخْتِيَــــارَاً أبَــدَا

Dhomir yg berstatus Muttashil adalah Isim Dhomir yang tidak bisa dijadikan permulaan dan tidak boleh mengiringi إلا selama masih bisa memilih demikian.

كَالْيَاءِ وَالْكَافِ مِنِ ابْني أكْرَمَكْ ¤وَالْيَــاءِ وَالْهَا مِنْ سَلِيْهِ مَا مَلَكْ

Seperti Ya’ dan Kaf dari contoh lafadz: ابْني أكْرَمَكْ(Ya’ Mutakallim dan Kaf Mukhothob), dan seperti Ya’ dan Ha’ dari contoh lafadz: سَلِيْهِ مَا مَلَكْ (Ya’ Mukhotobah dan Ha’ Ghoib)

وَكُـلُّ مُضْمَرٍ لَـهُ الْبِنَا يَجِبْ ¤وَلَفْظُ مَا جُرَّ كَلَفْظِ مَا نُصِبْ

Semua Dhomir wajib Mabni. Lafadz Dhomir yang dijarrkan, sama bentuknya dengan lafadz Dhomir yang dinashobkan.

لِلرَّفْعِ وَالْنَّصْبِ وَجَرَ نا صَلَحْ ¤كَاعْـرِفْ بِنَا فَـإِنَّنَا نِلْـنَا الْمِـنَحْ

Dhomir Muttashil نا mencocoki semua bentuknya dalam mahal Rofa’, Nashob, dan Jarrnya. Seperti contoh lafadz: اعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ ( ket. بنا = Mahal Jarr, فَإِنَّنَا = Mahal nashab, نِلْنَا = Mahal rofa’)

وَأَلِفٌ وَالْــوَاوُ وَالْنُّوْنُّ لِمَا ¤غَابَ وَغَيْرِهِ كَقَامَا وَاعْلَمَا

Alif, Wau dan Nun, termasuk Dhomir Muttashil untuk Ghoib juga Hadhir. Seperti contoh: قَامَا (Alif Dhomir Muttashil Ghoibain, artinya: “mereka berdua telah berdiri”) dan contoh: اعْلَمَا (Alif Dhomir Muttashil Mukhothobain, artinya: “ketahuilah kalian berdua!”).

ISIM DOMIR YANG MUSTATIR

وَمِنْ ضَمِيْرِ الْرَّفْعِ مَا يَسْتَتِرُ ¤كَافْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ

Dhomir yang harus disimpan (Dhomir Mustatir) ada pada sebagian dhomir Rofa’, seperti pada contoh: افْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ (ket: افْعَلْ = Fi’il ‘Amar untuk satu mukhotob, taqdirannya انت . dan  أوَافِقْ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mutakallim, taqdirannya انا. dan نَغتَبِطْ = Fi’il Mudhori’ untuk Mutakallim Ma’al Ghair, taqdirannya نحن . dan تُشْكرُ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mukhotob, taqdirannya انت.)

ISIM DHOMIR MUNFASHIL

وَذُو ارْتِفَاعٍ وَانْفِصَالٍ أَنَا هُوْ ¤وَأَنْــتَ وَالْفُـــرُوْعُ لاَ تَشْــتَبِهُ

Dhomir Rofa’ dan Munfashil, yaitu أَنَا, هُوْ, أَنْتَ dan cabang-cabangnya yg tidak ada kemiripan.

وَذُو انْتِصَابٍ فِي انْفِصَالٍ جُعِلاَ ¤إيَّايَ وَالْتَّـــفْرِيْعُ لَيْسَ مُشْـــكِلاَ

Dhomir Nashob yang dibuat untuk Munfashil, yaitu إيَّايَ dan cabang-cabangnya yg jelas tidak ada keisykalan.

PENGGUNAAN BENTUK DHOMIR

وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيء الْمُنْفَصِلْ ¤إذَا تَــــأَتَّى أنْ يَجِيء الْمُتَّــصِلْ

Dalam keadaan bisa memilih, tidak boleh mendatangkan Dhomir Munfashil jika masih memungkinkan untuk mendatangkan Dhomir Muttashil.

وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاء سَلْنِيْهِ وَمَا ¤أَشْبَهَـهُ فِي كُنْـتُهُ الْخُــلْفُ انْتَمَى

Muttashil-kanlah atau Munfashil-kanlah..! (boleh memilih) untuk Dhomir Ha’ pada contoh lafadzسَلْنِيْهِ dan lafadz yang serupanya. Adapun perbedaan Ulama bernisbatkan kepada lafadz كُنْتُهُ.

كَـــذَاكَ خِلْتَنِيْــهِ وَاتِّصَــــــالاَ ¤ أَخْتَأارُ غَيْرِي اخْتَارَ الانْفِصَالاَ

Seperti itu juga, yaitu lafadz خِلْتَنِيْهِ , aku memilih menggunakan Dhomir Muttashil, selainku memilih menggunakan Dhomir Munfashil.

وَقَــــدِّمِ الأَخَصَّ فِي اتِّصَالِ ¤وَقَدِّمَنْ مَا شِئْتَ فِي انْفِصَالِ

Dahulukanlah! Dhomir yang lebih khusus, di dalam penggunaan Dhomir Muttashil. Dan dahulukanlah Dhomir mana saja terserah kamu suka, di dalam penggunaan Dhomir Munfashil.

وَفِي اتِّحَادِ الرُّتْبَةِ الْزَمْ فَصْلاَ ¤وَقَدْ يُبِيْحُ الْغَــيْبُ فِيْهِ وَصْـــلاَ

Gunakanlah! Dhomir Munfashil untuk perkumpulan Dhomir-Dhomir yg setingkat. Dan terkadang diperbolehkan penggunaan Dhamir Muttashil untuk perkumpulan Dhomir-Dhomir ghoib yg setingkat.

NUN WIQOYAH PEMISAH DHOMIR YA’ MUTAKALLIM dg KALIMAT FI’IL

وَقَبْلَ يَا الْنَّفْسِ مَعَ الْفِعْلِ الْتُزِمْ ¤ نُـــوْنُ وِقَــايَةٍ وَلَيْسِي قَدْ نُظِـــمْ

Sebelum Ya’ Mutakallim yang menyertai Kalimat Fi’il, ditetapkan (untuk dipasang) Nun Wiqoyah (nun pelindung). Sedangkan لَيْسِي sungguh ada yang menadzomkan seperti itu.

NUN WIQOYAH PEMISAH DHOMIR YA’ MUTAKALLIM dg KALIMAT HURUF

وَلــيْتَنيِ فَشَا وَلَيْتي نَـــدَرَا ¤وَمَعْ لَعَلَّ اعْكِسْ وَكُنْ مُخَيَّراً

Contoh Lafadz seperti ليْتَنيِ (dgn Nun Wiqoyah) Sering dipakai, sedangkan Lafadz لَيْتي (tanpa Nun Wiqoyah) jarang digunakan. Dan perbalikkanlah Hukunya untuk lafadz yang menyertai لَعَلَّ. Dan jadilah kamu orang yang disuruh memilih!……

فِي الْبَاقِيَاتِ وَاضْطِرَارَاً خَفَّفَا ¤مِنِّي وَعَنِّي بَعْـضُ مَنْ قَدْ سَلَفَا

…untuk sisa Kalimat Huruf lainnya (saudara لَيْتdan لَعَلَّ ). Dan karena alasan Darurat syi’ir, sebagian orang-orang dulu mentakhfifkan (tanpa tasydid/Nun wiqoyah) pada lafadz مِنِّي dan عَنِّي .

وَفِــي لَدُنِّــي لَدُنِــي قَـــلَّ وَفِـــي ¤ قَدْنِي وَقَطْنِي الْحَذْفُ أَيْضَاً قَدْ يَفِي

Untuk lafadz لَدُنِّي (dgn Nun Wiqoyah), jarang menggunakan lafadz لَدُنِي (tanpa Nun Wiqoyah). Dan untuk Lafadz قَدْنِي dan قَطْنِي dengan membuang (Nun Wiqoyah) terkadang terpenuhi.

Bab Nakirah dan Ma’rifat

الْمُعْرَبُ وَالْمَبْنِي

BAB MU’RAB DAN MABNI

KALIMAH-KALIMAH YANG MU’RAB DAN YANG MABNIY

وَالاسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِي ¤لِشَبَـــهٍ مِنَ الْحُــرُوْفِ مُدْنِي

Diantara Kalimat Isim ada yang Mu’rab, dan ada juga yang Mabni karena keserupaan dengan kalimah Huruf secara mendekati

كَالْشَّبَهِ الْوَضْعِيِّ فِي اسْمَيْ جِئْتَنَا ¤ وَالْمَعْـنَـــوِيِّ فِي مَتَى وَفِي هُـــــــنَا

Seperti keserupaan bangsa wadh’iy didalam contoh dua Isimnya lafadz Ji’tana. Dan keserupaan bangsa Ma’nawiy di dalam contoh Mata, dan Huna.

وَكَنِيَابَةٍ عَنِ الْفِعْلِ بِلاَ ¤ تَأَثُّــــرٍ وَكَافْــتِقَارٍ أُصِّلا

Dan keserupaan bangsa Niyabah (pengganti) dari Fi’il tanpa pembekasan I’rob (Isim Fi’il). Dan keserupaan bangsa Iftiqor/kebutuhan yang dimustikan (yakni, isim maushul musti membutuhkan shilah).

وَمُعْرَبُ الأَسْمَاءِ مَا قَدْ سَلِمَا ¤مِنْ شَبَهِ الْحَرْفِ كَأَرْضٍ وَسَمَا

Adapun Mu’rabnya Kalimah-kalimah Isim, adalah Kalimah yang selamat dari keserupaan dengan Kalimah Huruf, seperti contoh Ardhin dan Sumaa.

وَفِـــعْلُ أَمْرٍ وَمُضِيٍّ بُنِـيَا ¤وَأَعْرَبُوا مُضَارِعَاً إنْ عَرِيَا

Fi’il Amar dan Fi’il Madhi, keduanya dihukumi Mabni. Dan mereka Ulama Nahwu sama menghukumi Mu’rab terhadap Fi’il Mudhori’ jika sepi…..

مِنْ نُوْنِ تَوْكِيْدٍ مُبَاشِرٍ وَمِنْ ¤نُوْنِ إنَــاثٍ كَيَرُعْنَ مَنْ فُـــتِنْ

Dari Nun Taukid yang mubasyaroh (bertemu langsung) dan Nun Ta’nits, seperti lafadz: Yaru’na Man Futin.

وَكُلُّ حَـرْفٍ مُسْتَــحِقٌّ لِلْبِنَا ¤وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَا

Semua Kalimah Huruf menghaki terhadap Mabni.   Asal didalam Kemabnian adalah dihukumi Sukun.

وَمِنْهُ ذُو فَتْحٍ وَذُو كَسْرٍ وَضَمُّ ¤كَأَيْنَ أَمْسِ حَيْثُ وَالْسَّــــاكِنُ كَمْ

Diantara hukum Mabni adalah Mabni Fathah, Mabni Kasroh dan Mabni Dhommah. Seperti lafadz: Aina, Amsi, Haitsu, dan Mabni Sukun seperti Lafadz Kam.



MACAM-MACAM I’RAB

وَالْرَّفْعَ وَالْنَّصْبَ اجْعَلَنْ إعْرَابَا ¤لاسْــمٍ وَفِــعْــلٍ نَحْـوُ لَنْ أَهَـــــابَا

Jadikanlah Rofa’ dan Nashab sebagai I’rab (sama bisa) untuk Isim dan Fi’il, seperti lafadz Lan Ahaba.

وَالاسْمُ قَدْ خُصِّصَ بِالْجَرِّ كَمَا ¤قَــدْ خُصِّصَ الْفِعْـلُ بِأَنْ يَنْـجَزِمَا

Kalimah Isim dikhususi dengan I’rab Jarr, sebagaimana juga Fi’il dikhususi dengan dii’rab Jazm.



TANDA ASAL I’RAB

فَارْفَعْ بِضَمَ وَانْصِبَنْ فَتْحَاً وَجُرْ ¤ كَسْــــــرَاً كَــذِكْرُ اللَّهِ عَبْــدَهُ يَسُـرْ

Rofa’kanlah olehmu dengan tanda Dhommah, Nashabkanlah! Dengan tanda Fathah, Jarrkanlah! Dengan tanda Kasrah. Seperti lafadz Dzikrullahi ‘Abdahu Yasur.

وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ وَغَيْرُ مَا ذُكِرْ ¤يَنُــوْبُ نَحْوُ جَا أَخْــو بَنِي نَمِــرْ

Dan Jazmkanlah! Dengan tanda Sukun. Selain tanda-tanda yang telah disebut, merupakan penggantinya. Seperti lafadz: Jaa Akhu Bani Namir.

TANDA I’RAB ASMAUS SITTAH

وَارْفَعْ بِــوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ ¤وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ

Rofa’kanlah dengan Wau, Nashabkanlah dengan Alif, dan Jarrkanlah dengan Ya’, untuk Isim-Isim yang akan aku sifati sebagai berikut (Asmaus Sittah):

مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا ¤وَالْفَــــــمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا

Diantara Isim-Isim itu (Asmaus Sittah) adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib (yg memiliki), dan Famu sekiranya Huruf mim dihilangkan darinya.

أَبٌ آخٌ حَـــمٌ كَـــذَاكَ وَهَـــنُ ¤وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ

Juga Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik.

وَفِي أَبٍ وَتَـالِيَيْهِ يَنْـــدُرُ ¤وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ

Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.

وَشَرْطُ ذَا الإعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لاَ ¤ لِلْيَــا كَــجَا أَخْــو أَبِيْـــكَ ذَا اعْـــتِلاَ

Syarat I’rab ini (Rafa’ dg wau, Nasha dg Alif, dan Jarr dg Ya’ pada Asmaus Sittah) harus Mudhaf kepada selain Ya’ Mutakallim. Seperti: Jaa Akhu Abiika Dza-’tilaa.

TANDA I’RAB ISIM TATSNIYAH DAN MULHAQNYA

بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ ¤ إذَا بِمُـــضْمَرٍ مُضَــافَاً وُصِلاَ

Rafa’kanlah! dengan Alif terhadap Isim Mutsanna, juga lafadz Kilaa apabila tersambung langsung dengan Dhomir, dengan menjadi Mudhof.

كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ ¤كَابْنَــيْنِ وَابْنَتَيْــنِ يَجْــرِيَانِ

Juga (Rofa’ dg Alif) lafadz Kiltaa, begitupun juga lafadz Itsnaani dan Itsnataani sama (I’rabnya) dengan lafadz Ibnaini dan Ibnataini keduanya contoh yang dijarrkan.

وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ ¤جَــــرًّا وَنَصْـــبَاً بَعْدَ فَتْـــحٍ قَدْ أُلِفْ

Ya’ menggantikan Alif (tanda Rofa’) pada semua lafadz tsb (Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya) ketika Jarr dan Nashabnya, terletak setelah harkat Fathah yang tetap dipertahankan.

TANDA I’RAB JAMAK MUDZAKKAR SALIM  DAN MULHAQNYA

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وَانْصِبِ ¤سَــــــــالِمَ جَمْعِ عَــــــــامِرٍ وَمُذْنِبِ

Rofa’kanlah dengan Wau!, Jarrkan dan Nashabkanlah dengan Ya’! terhadap Jamak Mudzakkar Salim dari lafadz “‘Aamir” dan “Mudznib”

وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُوْنَا ¤وَبَابُـــهُ أُلْحِــقَ وَالأَهْــــلُوْنَا

….dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya). Dan lafadz “‘Isyruuna dan babnya”, dimulhaqkan kepadanya (I’rab Jamak Mudzakkar Salim). Juga lafadz “Ahluuna”

أوْلُو وَعَالَمُوْنَ عِلِّيّونَا ¤وَأَرْضُـــوْنَ شَذَّ وَالْسِّـنُوْنَا

Juga lafadz “Uluu, ‘Aalamuuna, ‘Illiyyuuna dan lafazh Aradhuuna adalah contoh yang syadz (paling jauh dari definisi Jamak Mudzakkar Salim). Juga Lafadz “sinuuna….

وَبَابُهُ وَمِثْلَ حِيْنٍ قَـدْ يَرِدْ ¤ ذَا الْبَابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْمٍ يَطَّرِدْ

…dan babnya”. Terkadang Bab ini (bab sinuuna) ditemukan dii’rab semisal lafadz “Hiina” (dii’rab harkat, dengan tetapnya ya’ dan nun) demikian ini ditemukan pada suatu kaum (dari Ahli Nawu atau orang Arab)

وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَا بِهِ الْتَحَقْ ¤فَافْــتَحْ وَقَــلَّ مَنْ بِكَــسْرِهِ نَطَــقْ

Fathahkanlah! harakah “Nun”nya Kalimat yang dijamak Mudzakkar Salim dan Mulhaqnya. Ada segelintir orang bercakap-cakap dengan mengkasrahkannya.

وَنُوْنُ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلْحَقِ بِهْ ¤بِعَـــكْسِ ذَاكَ اسْتَعْمَلُوْهُ فَانْتَبِهْ

Adapun “Nun”nya Kalimat yang ditatsniyahkan dan Mulhaqnya, adalah terbalik (Harakah Nun dikasrahkan). Semuanya mengamalkan demikian, maka perhatikanlah!

TANDA I’RAB JAMAK MU’ANNATS SALIM  DAN MULHAQNYA

وَمَا بِتَـــا وَأَلِــفٍ قَــدْ جُمِــعَا ¤يُكْسَرُ فِي الْجَرِّ وَفِي النَّصْبِ مَعَا

Setiap Kalimah yang dijamak dengan tambahan Alif dan Ta’ (Jamak Muannats Salim) tanda Jarr dan Nashabnya sama dikasrohkan.

كَذَا أُوْلاَتُ وَالَّذِي اسْمَاً قَدْ جُعِلْ ¤ كَــــأَذْرِعَــاتٍ فِــيْهِ ذَا أَيْــضَاً قُــبِلْ

Begitu juga (Dii’rab seperti Jamak Muannats Salim) yaitu lafadz “Ulaatu”. Dan Kalimah yang sungguh dijadikan sebuah nama seperti lafadz “Adri’aatin” (nama tempat di Syam) yang demikian ini juga diberlakukan I’rab seperti Jamak Mu’annats Salim.

TANDA I’RAB ISIM YANG TIDAK MUNSHORIF

وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ ¤ مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِفْ

Setiap Isim yang tidak Munshorif dijarrkan dengan Harakah Fathah, selama tidak Mudhof atau tidak jatuh sesudah AL.

TANDA I’RAB AF’ALUL KHOMSAH

وَاجْعَلْ لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤رَفْـــعَاً وَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَا

Jadikanlah! Nun sebagai tanda Rofa’ untuk contoh Kalimah-kalimah yang seperti lafadz يفعلان (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Alif Tatsniyah) dan lafadz  تدعين (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Ya’ Mu’annats Mukhatabah) dan lafadz تسألون (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Wau Jamak).

وَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ ¤كَــلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

Sedangkan tanda Jazm dan Nashabnya, yaitu dengan membuang Nun. seperti contoh َلمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

TANDA I’RAB ISIM MU’TAL (ISIM MAQSHUR DAN ISIM MANQUSH)

وَسَمِّ مُعْتَلاًّ مِنَ الأَسْمَاءِ مَا ¤كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقَي مَكَارِمَا

Namailah! Isim Mu’tal, terhadap Isim-Isim yang seperti lafadz الْمُصْطَفَى (Isim yang berakhiran huruf Alif) dan seperti lafadz الْمُرْتَقَي مَكَارِمَا (Isim yang berakhiran huruf Ya’).

فَالأَوَّلُ الإِعْرَابُ فِيْهِ قُدِّرَا ¤جَمِيْـعُهُ وَهْوَ الَّذِي قَدْ قُصِرَا

Contoh lafadz yang pertama (الْمُصْطَفَى) Semua tanda I’rabnya dikira-kira, itulah yang disebut Isim Maqshur.

وَالْثَّانِ مَنْقُوصٌ وَنَصْبُهُ ظَهَرْ ¤وَرَفْـعُهُ يُنْــوَى كَذَا أيْضَــــاً يُجَرْ

Contoh lafadz yang kedua (الْمُرْتَقَي) dinamakan Isim Manqush, tanda Nashabnya Zhohir. Tanda Rofa’ dan juga Jarrnya sama dikira-kira.

TANDA I’RAB FI’IL MU’TAL

وَأَيُّ فِعْــلٍ آخِرٌ مِنْهُ أَلِفْ ¤ أوْ وَاوٌ أوْ يَاءٌ فَمُعْتَلاًّ عُرِفْ

Setiap Kalimah Fi’il yang akhirnya huruf illat Alif , Wau atau Ya’, maka dinamakan Fi’il Mu’tal.

فَالأَلِفَ انْوِ فِيْهِ غَيْرَ الْجَزْمِ ¤وَأَبْـــدِ نَصْبَ مَا كَيَدْعُو يَرْمِي

Kira-kirakanlah! I’rab untuk Kalimah Fi’il yang berakhiran Alif pada selain Jazmnya. Dan Zhohirkanlah! tanda nashab untuk Kalimah Fi’il yang seperti يَدْعُو (Berakhiran huruf Wau) dan يَرْمِي (Berakhiran huruf Ya’)…

والرَّفعَ فيهما انْوِ واحذِفْ جازِمَا ¤ ثــلاثَـــهُنَّ تَقــــضِ حُكمَــا لازِمَــــا

dan kira-kirakanlah! tanda Rofa’ untuk kedua lafadz (يَدْعُو dan يَرْمِي ). Buanglah (huruf-huruf illat itu) jika engkau sebagai orang yang menjazmkan ketiga Kalimah Fi’il Mu’tal tsb, maka berarti engkau memutuskan dengan Hukum yang benar.

Bab Mu’rab dan Mabni

Subscribe Our Newsletter